Reog Sepuh: Kembalinya Reog Tempo Doeloe di Bedingin


Ponorogo merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Timur bagian barat yang berbatasan langsung dengan Provinsi Jawa Tengah atau lebih tepatnya 220 km arah barat daya dari ibu kota Provinsi Jawa Timur, Surabaya. Ponorogo terkenal dengan budayanya yaitu Reog. Oleh karenanya, kota ini juga dikenal sebagai kota Reog. Reog merupakan sendratari yang terdiri dari beberapa penari antara lain Pembarong, Bujangganong, Jathil, Klonosuwandono, dan Warok.

Di Desa Bedingin, Sambit, Ponorogo, terdapat kesenian Reog yang disebut dengan Reog sepuh. Kesenian ini muncul kembali bersamaan dengan kesenian jathil lanang pada tahun 2017, pada saat seorang mahasiswa ISI melakukan penelitian untuk skripsinya mengenai kesenian tersebut di Bedingin, Sambit, Ponorogo.

Reyog obyog di desa Bedingin Sambit

Pertunjukan Reog obyog di Desa Bedingin (Sumber: www.kompasiana.com/Nanang Diyanto)

Reog sepuh ini memiliki perbedaan dengan kesenian Reog yang biasa ditampilkan saat ini pada suatu pagelaran seni. Reog sepuh atau Reog tempo doeloe ini merupakan kebalikan dari Reog festival, dimana aturan sudah tidak berlaku lagi. Artinya sudah tidak menggunakan pedoman-pedoman dalam sebuah pementasan Reog. Perbedaan yang sangat terlihat adalah Reog festival hanya bisa dilakukan di tempat tertentu dan cenderung menggunakan banyak ruang, sedangkan Reog sepuh bisa menggunakan ruang sempit sekalipun yang terpenting dadak merak dapat bergerak bebas.

Dulunya, Reog tempo doeloe atau dikenal dengan Reog obyog ini biasa ditampilkan di pinggir-pinggir jalan dengan bentuk dadak meraknya berbeda dengan sekarang dimana memiliki ukuran yang lebih kecil dan memiliki moncong harimau yang lebih panjang serta biasanya dilakukan oleh tiga orang tidak hanya satu orang seperti sekarang. Selain itu, menurut Kepala Desa Bedingin, musik yang mengiringi Reog tempo doeloe dengan Reog sekarang ini berbeda. Dahulu kala, saat mendengar musik pengiring Reog masyarakat seketika merasa terhipnotis dan menikmati alunan musik tersebut dengan secara tidak sadar menghentakkan kedua kakinya. Seperti namanya, Reog obyog lebih mengutamakan kebersamaan dan kesenangan (hiburan) para pemain dan dan orang-orang yang terlibat dalam pertunjukan.

Dengan munculnya Reog sepuh ini diharapkan meningkatkan minat masyarakat sekitar untuk berkunjung ke Desa Bedingin dan meningkatkan minat generasi muda untuk mempelajari kesenian yang ada di Desa Bedingin ini.

Sumber:

Brillian, SD Nur Ilham. 2018. Koreografi Jathil Lanang dalam Pertunjukan Reog Cokro Menggolo di Desa Karangan Kecamatan Badegan Kabupaten Ponorogo. Skripsi. Surakarta: Institut Seni Indonesia.

Kompasiana.com (2017). Kebangkitan Jathil Lanang dalam Seni Reog Ponorogo. Diakses pada 01 Juni 2021, dari Kebangkitan Jathil Lanang dalam Seni Reog Ponorogo Halaman all - Kompasiana.com 

Sugianto, Alip. 2015. Gaya Bahasa dan Budaya Mantra Warok Reyog Ponorogo (Kajian Etnolinguistik). Prosididng Seminar Nasional Pendidikan “Inovasi Pembelajarab untuk Pendidikan Berkemajuan”. Ponorogo: Universitas Muhammadiyah Ponorogo.

Media Kreative Desa

No comments:

Post a Comment

Instagram